Jelang 11 tahun Tragedi Trisakti 12 Mei 1998

Para anak Bangsa dan Pemangku Negeri
Semoga kalian masih ingat peristiwa Mei 98, walau tak kuasa menguaknya. :( ...

Ini ada Puisi dari salah satu dari sekian saksi sejarah kala itu

----------------------------------------------------------------------------------------------------

Rabu, 13 Mei 1998…
"Airmata para ibu…darah para anak…nyawa para mahasiswa…
Menuntutlah kepada siapa, yang bukan Pencipta, tetapi mengaku kuasa…
mengaku ksatria…mengaku pembela.
Jika kau masih mampu berteriak, maka teriaklah…selama suaramu ada.
Jika kau hanya sanggup menangispun tak apa.
Biarkanlah batu nisan anakmulah yang akan membelamu ibu.
Basahnya tanah makam anakmulah yang akan mewakilimu berteriak di telinga dan di dalam pikiran mereka yang gila dan haus darah.
Sampai mereka takkan ulangi hasrat jahanamnya itu".
"Mata temanku…"
yang tersisa hanyalah sorot garang, penuh kemarahan yang siap tertumpah…
Meledak kepada siapapun yang mengganggu…
Serta mungkin sejuta pertanyaan yang berulang…
Apa salah kawan kami?
Mereka berteriak atas nama perut rakyatnya yang lapar…
Yang juga rakyatmu, bukan?
Dan harus kau ambil nyawanyakah?

In memoriam "Tragedi Trisakti" (12 Mei 1998)
• Alm.Elang Mulya Lesmana - Mahasiswa Trisakti (Tehnik Arsitektur 96) , Jakarta
• Alm.Hafidin Royan - Mahasiswa Trisakti (Tehnik Sipil 95) , Jakarta
• Alm.Hendriawan Sie - Mahasiswa Trisakti (Manajemen 96) , Jakarta
• Alm.Hery Hartanto  - Mahasiswa Trisakti (Tehnik Mesin 95), Jakarta

Thanx

(Puisi ini berasal Koleksi Pribadiku (Nyamuk MP), 13 May 1998.)
Source :
http://t471m.multiply.com/photos/album/69/PERINGATAN_11_TAHUN_TRAGEDI_TRISAKTI




















Artikel Terkait :



Tidak ada komentar:

Quote :

Bagaimana tidak mungkin internet menjadi sumber dekadensi moral anak bangsa, kalau hanya dengan mengetikkan kata kunci : babe, nude, hot, girl, maka kita dapat dengan mudah menemukan link-link masuk ke situs nudis? :(